Example floating
Example floating
Opini

Idul Fitri, Ruang Hidup, dan Transisi Energi yang Adil

Avatar photo
×

Idul Fitri, Ruang Hidup, dan Transisi Energi yang Adil

Sebarkan artikel ini
Reporter: Arianto |  Editor: Redaksi
Idul Fitri, Ruang Hidup, dan Transisi Energi yang Adil
POTRET EGIDIUS RONIKUNG

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Idul Fitri, Ruang Hidup, dan Transisi Energi yang Adil

Oleh: Egidius Ronikung (Co-Founder Kenari)

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

BELU, RFC — Idul Fitri kerap dimaknai sebagai momentum kembali kepada kesucian diri. Namun, dalam kehidupan sosial dan politik, makna itu tidak seharusnya berhenti pada urusan batin dan ritual semata.

Baca Juga :  Dana Desa Diduga Dialihkan, Eusebius Sulun Soroti Kebijakan Pemda Belu yang Dinilai Abaikan Otonomi Desa

Lebaran juga adalah panggilan untuk menata ulang kehidupan bersama: membersihkan cara pandang, memperbaiki arah kebijakan, serta memastikan pembangunan dijalankan dengan kejujuran, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam pengertian itu, Idul Fitri bukan hanya peristiwa keagamaan, melainkan juga cermin etik untuk menguji apakah jalan pembangunan yang kita tempuh sungguh menghadirkan kemaslahatan, atau justru meninggalkan luka yang dipaksa dianggap wajar.

Baca Juga :  Ketua BEM STISIP Fajar Timur Atambua Konsolidasi Massa, Soroti Dugaan Penyalahgunaan Rujab Ketua DPRD Belu

Refleksi ini menjadi penting ketika dibawa ke dalam perdebatan energi di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Flores. Pertanyaan mendasarnya sederhana namun mendesak: apakah transisi energi sedang dijalankan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih adil, atau justru hadir sebagai bentuk baru penaklukan atas ruang hidup masyarakat?
Selama ini, perdebatan energi di NTT sering terjebak dalam dua kutub yang saling meniadakan. Di satu sisi, ada narasi besar tentang energi bersih, dekarbonisasi, dan kepentingan nasional.

Example floating