Di sisi lain, ada suara warga yang mempertahankan tanah, air, kebun, hutan, serta warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas hidup mereka.
Akibatnya, publik seolah dipaksa memilih: berpihak pada masa depan energi bersih atau berpihak pada ruang hidup warga. Padahal, pertentangan semacam itu lahir dari cara berpikir yang keliru.
Yang dipersoalkan bukanlah transisi energinya. Yang menjadi masalah adalah bagaimana transisi itu dirancang, diputuskan, dan dijalankan. Ketika agenda yang diklaim “hijau” masih menggunakan pendekatan lama—sentralistis, ekstraktif, dan seragam—maka yang terjadi bukan transformasi, melainkan pengulangan pola lama dengan wajah baru.
Di NTT, ruang hidup bukan sekadar soal tanah sebagai aset ekonomi. Ia adalah ruang relasi: antara manusia dengan alam, antara kebun dengan pangan, antara kampung dengan sejarah, dan antara budaya dengan identitas.
Karena itu, ketika proyek energi masuk hanya dengan bahasa investasi, kapasitas, dan target, warga tidak sedang menolak teknologi. Mereka sedang mempertahankan cara hidup yang telah teruji oleh waktu.














