Penjilat, Kutu Loncat, dan Demam Kekuasaan yang Tak Kunjung Sembuh
Oleh: Yohanes Fernando Soares
BELU, RFC — Pergantian kepemimpinan dalam politik pada dasarnya merupakan momentum penting yang sarat makna. Ia bukan sekadar proses seremonial pergantian figur, tetapi seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif—untuk mengevaluasi kinerja masa lalu, memperbaiki kekurangan, dan merumuskan arah kebijakan yang lebih baik ke depan.
Namun, dalam praktiknya, momentum ini kerap kehilangan substansi. Alih-alih menjadi ajang evaluasi yang jujur dan rasional, transisi kekuasaan justru sering berubah menjadi panggung lama yang diisi oleh aktor-aktor dengan pola perilaku yang sama. Salah satu fenomena yang terus berulang adalah munculnya figur-figur oportunistik yang oleh publik kerap disebut sebagai penjilat dan kutu loncat.
Fenomena ini bukan hal baru. Ia telah lama menjadi bagian dari dinamika politik, baik di tingkat nasional maupun daerah. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika perilaku tersebut tidak hanya dianggap biasa, tetapi juga dibiarkan tumbuh tanpa kontrol sosial yang memadai.














