Para petani mengaku sering kali hasil kebun terlambat dijual karena kesulitan transportasi. Akibatnya, beberapa komoditas seperti sayur-sayuran mengalami penurunan kualitas bahkan membusuk sebelum sampai ke pasar. Hal ini tentu menambah kerugian yang harus ditanggung warga.
Di sisi lain, sopir angkutan juga mengaku keberatan jika harus terus melewati jalur memutar. Selain jarak lebih jauh, kondisi jalan alternatif juga cukup berat sehingga kendaraan lebih cepat rusak. Biaya perawatan mobil meningkat dan risiko kecelakaan pun lebih tinggi.
Karena itu, masyarakat meminta adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, dinas teknis terkait, maupun pihak-pihak lain yang memiliki kewenangan dalam pembangunan infrastruktur daerah. Mereka berharap pemerintah segera turun ke lokasi untuk melihat langsung kondisi jalan yang putus total tersebut.
Warga menilai, melihat kondisi secara langsung sangat penting agar pemerintah mengetahui kesulitan yang dialami masyarakat setiap hari. Dengan demikian, penanganan bisa segera dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan.












