Seorang warga yang ditemui media ini mengaku sangat kecewa dengan kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki. Menurutnya, warga kini harus mengeluarkan biaya lebih besar karena kendaraan harus memutar jauh melewati jalur lain yang kondisinya juga tidak sepenuhnya baik.
“Kami sangat susah sekarang. Kalau mau bawa hasil kebun ke Betun harus putar jauh. Ongkos mobil jadi naik karena sopir hitung jarak lebih jauh dan bahan bakar lebih banyak. Kalau begini terus, kami rugi besar,” ujar warga tersebut.
Menurut warga lainnya, kondisi jalan rusak dan putus total ini sebenarnya bukan baru terjadi sekarang. Kerusakan sudah berlangsung cukup lama, namun semakin parah setelah musim hujan dengan curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut. Air hujan yang terus mengalir mengikis badan jalan hingga akhirnya sebagian ruas ambruk dan tidak bisa lagi dilalui kendaraan.
Masyarakat mengaku selama ini hanya bisa berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah. Sebab jalan tersebut bukan hanya digunakan untuk mengangkut hasil kebun, tetapi juga menjadi jalur utama warga menuju pusat kecamatan, fasilitas kesehatan, sekolah, dan pasar. Ketika jalan rusak parah, seluruh aktivitas warga ikut terganggu.












