Pemuda juga bisa menjadi motor penggerak inisiatif energi berbasis komunitas, riset lokal, serta pengawasan publik terhadap proyek-proyek pembangunan. Inilah peran penting yang dibutuhkan saat ini: generasi yang tidak hanya bereaksi, tetapi juga mampu menawarkan arah.
Pada akhirnya, refleksi Idul Fitri membawa kita pada satu kesimpulan: pembangunan yang adil hanya mungkin lahir dari cara pandang yang menghormati kehidupan. Transisi energi di NTT harus dijalankan dengan kerendahan hati, keterbukaan, dan kesediaan untuk mendengar.
Sebab masa depan yang berkeadilan tidak dibangun oleh proyek yang merasa paling benar, melainkan oleh keputusan bersama yang menghargai manusia dan alam secara setara.
Jika pemuda NTT mengambil bagian dalam proses ini—menjaga ruang hidup, memperkuat pengetahuan publik, dan mengawal arah transisi—maka Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga menjadi energi moral untuk membangun masa depan NTT yang lebih adil dan manusiawi.
Tulisan ini merupakan opini penulis dan tidak mewakili sikap Redaksi Reformanews.com














