Selain ancaman terhadap sabana, WALHI juga menyoroti lokasi proyek yang berada di bentang alam karst. Kawasan ini berfungsi sebagai penyimpan cadangan air alami. Kerusakan kawasan karst dikhawatirkan dapat memperparah krisis air bersih di Sumba Timur yang selama ini memiliki karakter iklim kering.
Tak hanya itu, lokasi tambak disebut sangat dekat dengan permukiman warga, sekitar 700 meter dari rumah masyarakat. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan gangguan terhadap kualitas hidup warga, mulai dari pencemaran limbah, bau tidak sedap, hingga ancaman terhadap sumber air yang digunakan sehari-hari.
WALHI juga menilai janji penciptaan lapangan kerja yang kerap disampaikan dalam proyek-proyek besar tidak selalu sebanding dengan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Dalam banyak kasus, masyarakat lokal justru menjadi pihak yang paling terdampak akibat hilangnya ruang hidup dan menurunnya kualitas lingkungan.
Atas dasar itu, WALHI NTT mendesak pemerintah melakukan kajian lingkungan hidup yang independen, transparan, dan melibatkan masyarakat secara penuh. Mereka juga meminta perlindungan terhadap kawasan sabana serta bentang alam karst di Sumba Timur sebagai ekosistem penting penyangga kehidupan.














