Sabana di Sumba Timur disebut bukan lahan kosong yang bebas dialihfungsikan. Kawasan itu memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari menjaga tata air, menyimpan karbon, melindungi struktur tanah, hingga menjadi habitat berbagai flora dan fauna. Selain itu, sabana juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sebagai area penggembalaan ternak dan ruang budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
WALHI menilai pembukaan ribuan hektar lahan untuk tambak udang berpotensi merusak sistem ekologis yang tidak tergantikan. Jika kerusakan terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga masyarakat yang selama ini bergantung pada kawasan tersebut.
Staf Divisi Advokasi WALHI NTT, Yulianto Behar Nggali Mara, menyebut proyek ini memperlihatkan bagaimana kepentingan investasi kembali ditempatkan di atas keselamatan rakyat dan lingkungan.
“Pembangunan semacam ini tidak bisa dibenarkan karena mengancam keberlanjutan sumber air, menghancurkan ekosistem sabana dan karst, serta memperbesar risiko krisis ekologis bagi masyarakat yang hidup di wilayah rentan kekeringan,” tegas Yulianto dalam keterangan tertulisnya.














