Di sisi lain, dampak sosial dari praktik ini juga tidak bisa diabaikan. Masyarakat kecil yang menjadi sasaran utama razia sering kali mengalami tekanan ekonomi yang semakin berat. Barang dagangan disita, penghasilan hilang, sementara tidak ada alternatif yang ditawarkan. Dalam kondisi seperti ini, hukum tidak lagi dirasakan sebagai pelindung, melainkan sebagai ancaman.
Hal ini tentu berbahaya bagi keberlangsungan kepercayaan publik. Sebab, kepercayaan adalah modal utama dalam penegakan hukum. Tanpa kepercayaan, setiap tindakan aparat akan selalu dipertanyakan, bahkan dicurigai. Dan ketika kepercayaan itu mulai runtuh, maka legitimasi hukum ikut tergerus.
Perlu ditegaskan, kritik terhadap pola razia ini bukan berarti mendukung peredaran minuman keras ilegal. Tidak ada pembenaran terhadap aktivitas yang melanggar hukum. Namun, penegakan hukum harus dilakukan dengan cara yang adil dan menyeluruh. Ia harus mampu menjangkau semua pihak yang terlibat, dari hulu hingga hilir.
Aparat penegak hukum memiliki tanggung jawab moral dan institusional untuk memastikan bahwa keadilan tidak hanya menjadi slogan. Keberanian untuk menindak harus berlaku bagi semua, bukan hanya bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan.














