Example floating
Example floating
Opini

Razia yang Menjadi Formalitas: Ketika Hukum Kehilangan Arah dan Rakyat Kehilangan Kepercayaan

Avatar photo
×

Razia yang Menjadi Formalitas: Ketika Hukum Kehilangan Arah dan Rakyat Kehilangan Kepercayaan

Sebarkan artikel ini
Reporter: Arianto |  Editor: Redaksi
Razia yang Menjadi Formalitas: Ketika Hukum Kehilangan Arah dan Rakyat Kehilangan Kepercayaan
Razia yang Menjadi Formalitas: Ketika Hukum Kehilangan Arah dan Rakyat Kehilangan Kepercayaan

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Di sisi lain, dampak sosial dari praktik ini juga tidak bisa diabaikan. Masyarakat kecil yang menjadi sasaran utama razia sering kali mengalami tekanan ekonomi yang semakin berat. Barang dagangan disita, penghasilan hilang, sementara tidak ada alternatif yang ditawarkan. Dalam kondisi seperti ini, hukum tidak lagi dirasakan sebagai pelindung, melainkan sebagai ancaman.

Baca Juga :  Skill Mismatch Jadi Masalah Utama Dunia Kerja Indonesia

Hal ini tentu berbahaya bagi keberlangsungan kepercayaan publik. Sebab, kepercayaan adalah modal utama dalam penegakan hukum. Tanpa kepercayaan, setiap tindakan aparat akan selalu dipertanyakan, bahkan dicurigai. Dan ketika kepercayaan itu mulai runtuh, maka legitimasi hukum ikut tergerus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Perlu ditegaskan, kritik terhadap pola razia ini bukan berarti mendukung peredaran minuman keras ilegal. Tidak ada pembenaran terhadap aktivitas yang melanggar hukum. Namun, penegakan hukum harus dilakukan dengan cara yang adil dan menyeluruh. Ia harus mampu menjangkau semua pihak yang terlibat, dari hulu hingga hilir.

Baca Juga :  Surat untuk Mama: Ketika Bahasa Anak Menjadi Kritik Ekonomi

Aparat penegak hukum memiliki tanggung jawab moral dan institusional untuk memastikan bahwa keadilan tidak hanya menjadi slogan. Keberanian untuk menindak harus berlaku bagi semua, bukan hanya bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan.

Example floating