Example floating
Example floating
Opini

Razia yang Menjadi Formalitas: Ketika Hukum Kehilangan Arah dan Rakyat Kehilangan Kepercayaan

Avatar photo
×

Razia yang Menjadi Formalitas: Ketika Hukum Kehilangan Arah dan Rakyat Kehilangan Kepercayaan

Sebarkan artikel ini
Reporter: Arianto |  Editor: Redaksi
Razia yang Menjadi Formalitas: Ketika Hukum Kehilangan Arah dan Rakyat Kehilangan Kepercayaan
Razia yang Menjadi Formalitas: Ketika Hukum Kehilangan Arah dan Rakyat Kehilangan Kepercayaan

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Penegakan hukum bukan lagi soal keadilan, melainkan soal kemudahan target. Yang kecil lebih mudah dijangkau, lebih minim risiko, dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Sementara yang besar, dengan jaringan dan pengaruh yang dimiliki, justru sering kali berada di luar jangkauan penindakan.

Baca Juga :  Skill Mismatch Jadi Masalah Utama Dunia Kerja Indonesia

Jika kondisi ini terus berlangsung, maka tidak berlebihan jika publik mulai melihat razia sebagai formalitas semata—sebuah rutinitas yang dilakukan untuk menunjukkan bahwa aparat “bekerja”, tanpa benar-benar menyelesaikan akar persoalan. Razia berubah menjadi simbol, bukan solusi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Lebih jauh lagi, pendekatan seperti ini justru berpotensi menciptakan siklus masalah yang tidak pernah berakhir. Hari ini barang disita, besok kembali beredar. Hari ini pedagang kecil ditindak, besok muncul pedagang baru. Tidak ada efek jera yang signifikan, karena sumber utama peredaran tetap berjalan.

Baca Juga :  Mengenal Tren Karier Anak Muda Indonesia di Era Serba Digital: Dinamika, Tantangan, dan Peluang di Dunia Kerja Modern

Ini adalah bukti bahwa kebijakan yang dijalankan belum menyentuh inti persoalan. Tanpa keberanian untuk membongkar jaringan distribusi yang lebih besar, penegakan hukum hanya akan berputar di tempat. Ia menjadi seperti lingkaran setan yang terus berulang tanpa solusi nyata.

Example floating