Surat untuk Mama: Ketika Bahasa Anak Menjadi Kritik Ekonomi
Oleh: Alfons Molo
Tulisan ini adalah tafsir pribadi penulis atas sebuah surat yang beredar di ruang publik.
RFC,Surat singkat berjudul “Kertas Tii Mama Reti” yang ditulis YBR dengan bahasa daerah Bajawa (Ngada) pada dasarnya tampak seperti surat biasa dari seorang anak kepada ibunya. Isinya sederhana, bahkan terkesan polos. Ia memanggil ibunya dengan sebutan “Mama Galo Zee”—mama pelit sekali. Ia meminta ibunya tidak menangis jika ia meninggal, tidak mencarinya lagi, dan menutup surat dengan kalimat “Molo Mama”—selamat tinggal mama.
Namun di balik kesederhanaan bahasa itu, tersimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam. Surat ini bukan sekadar pesan perpisahan, melainkan potret psikologis seorang anak yang tumbuh dalam kondisi kekurangan, dan sekaligus kritik sosial yang lahir dari pengalaman hidup di tengah kemiskinan.
Dalam lapisan paling harfiah, surat ini memang seperti ungkapan pamit. Nada kematian dan perpisahan begitu kuat. Kalimat “kalau saya meninggal mama jangan menangis” bukan sekadar drama, melainkan bentuk kelelahan emosional. Ini adalah bahasa anak yang sudah terlalu akrab dengan rasa tidak aman, dengan hidup yang serba terbatas, dengan masa depan yang tidak pasti.














