Example floating
Example floating
Hukum Kriminal

Apresiasi Disertai Kritik: BEM STISIP Fajar Timur Ingatkan Pemkab Belu Jangan Tunggu Tekanan Publik Baru Perbaiki Jalan

Avatar photo
×

Apresiasi Disertai Kritik: BEM STISIP Fajar Timur Ingatkan Pemkab Belu Jangan Tunggu Tekanan Publik Baru Perbaiki Jalan

Sebarkan artikel ini
Reporter: Arianto  |  Editor: Redaksi
apresiasi-disertai-kritik-bem-stisip-fajar-timur-ingatkan-pemkab-belu-jangan-tunggu-tekanan-publik-baru-perbaiki-jalan

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

“Ketika jalan rusak dan tidak segera diperbaiki, dampaknya bukan hanya soal kenyamanan berkendara. Aktivitas ekonomi masyarakat terganggu, akses pendidikan menjadi sulit, bahkan pelayanan kesehatan bisa terhambat,” ujar Melfridus.

Kritik terhadap Respons yang Terlambat
Dalam pandangan BEM STISIP Fajar Timur, munculnya respons pemerintah setelah kritik publik menguat menunjukkan masih lemahnya sensitivitas dalam membaca kebutuhan masyarakat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Menurut Melfridus, pemerintah daerah seharusnya memiliki mekanisme perencanaan dan pengawasan pembangunan yang mampu mendeteksi persoalan di lapangan tanpa harus menunggu tekanan dari masyarakat.

Baca Juga :  Diduga Telantarkan Istri dan Anak, Seorang Suami di Malaka Terancam 3 Tahun Penjara

“Pemerintah tidak boleh menunggu mahasiswa atau masyarakat bersuara keras baru kemudian bergerak. Tanggung jawab melihat dan menyelesaikan persoalan rakyat seharusnya sudah menjadi kewajiban utama pemerintah,” tegasnya.

Baca Juga :  Keluarga Fransiskus Xaverius Asten Penuhi Panggilan Polda NTT, Kuasa Hukum Minta Penelusuran Mendalam

Ia menilai pola respons yang reaktif terhadap kritik publik justru memperlihatkan adanya celah dalam sistem perencanaan pembangunan daerah.

Dalam sistem perencanaan pembangunan, persoalan infrastruktur biasanya sudah terpetakan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) mulai dari tingkat desa hingga kabupaten. Melalui forum tersebut, aspirasi masyarakat seharusnya dapat diterjemahkan menjadi program pembangunan yang terencana.
Namun dalam praktiknya, tidak semua aspirasi yang disampaikan masyarakat dapat segera diwujudkan karena keterbatasan anggaran atau prioritas kebijakan.

Example floating