“Apresiasi tentu kami berikan karena pemerintah akhirnya merespons keluhan masyarakat. Tetapi kita juga harus jujur mengatakan bahwa kerusakan jalan dan jembatan ini bukan persoalan baru. Sudah lama masyarakat mengeluh, namun respons baru terlihat setelah isu ini menjadi perhatian publik,” kata Melfridus kepada Reformanews.com.
Jalan Rusak yang Lama Dikeluhkan
Kerusakan jalan dan jembatan di wilayah Lamaknen Selatan, terutama di Desa Debululik, Sisifatuberal, dan Lutarato, selama ini menjadi keluhan utama masyarakat.
Akses transportasi yang rusak tidak hanya menyulitkan mobilitas warga, tetapi juga berdampak langsung terhadap berbagai aktivitas sosial dan ekonomi. Warga yang hendak membawa hasil pertanian ke pasar harus melewati jalan yang rusak, sementara anak-anak sekolah dan pasien yang membutuhkan layanan kesehatan juga menghadapi risiko yang sama.
Di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Belu, kondisi infrastruktur jalan memiliki arti yang jauh lebih penting dibanding sekadar sarana transportasi. Jalan merupakan penghubung utama antara desa-desa terpencil dengan pusat pelayanan publik, termasuk pasar, sekolah, dan fasilitas kesehatan.
Karena itu, kerusakan yang dibiarkan terlalu lama sering kali menciptakan kesenjangan pembangunan antara wilayah pusat dan daerah pinggiran.














