Example floating
Example floating
Opini

Panen Perdana, Tekad Pertama: Membaca Arah Kepemimpinan Baru Kabupaten Kupang

Avatar photo
×

Panen Perdana, Tekad Pertama: Membaca Arah Kepemimpinan Baru Kabupaten Kupang

Sebarkan artikel ini
Reporter: Putri B. |  Editor: Redaksi
panen-perdana-tekad-pertama

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Penulis: Yoseph Bataona (Sekretaris SMSI NTT)

Reformanews.Com, OPINI – Di bawah terik matahari yang familiar di Kabupaten Kupang, suara mesin panen dan tawa petani menjadi latar saat Bupati Kupang Yosef Lede dan Wakil Bupati Aurum O. Titu Eki memulai panen raya perdana di Desa Pantulan. Ini bukan sekadar panen, ini adalah tanda baca awal dari arah kepemimpinan baru yang ingin membangun bukan dari ruang rapat, tetapi dari tanah—secara harfiah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Panen ini adalah bagian dari program 100 Hari Kerja pasangan Yosef-Aurum sejak dilantik pada 20 Februari 2025. Tapi lebih dari itu, panen ini adalah simbol. Sebuah deklarasi diam bahwa pembangunan di Kupang akan bertumpu pada ketahanan pangan, pemberdayaan desa, dan produksi lokal.

Baca Juga :  OPINI : Ketika Ibu Penjual Semangka Menjadi Cermin Kota: Sebuah Catatan Sosiologi Budaya”

Dari Perayaan ke Perencanaan

Dalam sambutannya, Bupati Yosef menekankan bahwa panen raya ini bukan tujuan akhir, melainkan awalan dari transformasi jangka panjang. Kupang, yang selama ini menghadapi tantangan lahan kering, kini diarahkan menjadi wilayah dengan kekuatan pangan mandiri. Targetnya jelas: dari minus 5.000 ton kebutuhan beras tahun lalu, Kupang diarahkan menuju swasembada, bahkan berpotensi menjadi penyuplai pangan regional.

“Kita tidak bisa terus bergantung pada wilayah lain untuk kebutuhan pokok,” ujar Yosef. “Dengan lahan luas, sumber air yang ada, dan teknologi yang semakin terjangkau, Kupang bisa jadi lumbung pangan.”

Kabupaten Kupang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan kondisi alam yang menantang: lahan kering, curah hujan terbatas, dan produksi pangan yang belum mencukupi kebutuhan lokal. Data tahun lalu menunjukkan kekurangan sekitar 5.000 ton beras dari total kebutuhan 55.000 ton.

Baca Juga :  Pemberhentian Tidak Dengan Hormat Kompol Cosmas Kaju Gae Perlu Ditinjau Ulang

Namun, di balik tantangan itu tersembunyi peluang besar. Kupang memiliki potensi lahan yang luas, serta sistem irigasi dan teknologi pertanian yang mulai ditingkatkan. Panen perdana ini, meski baru tahap awal, telah menunjukkan kemampuan desa-desa seperti Pantulan untuk meningkatkan produktivitas pangan secara signifikan.

Kebijakan yang diusung Yosef–Aurum tidak hanya fokus pada hasil panen, melainkan juga pada ekosistem yang menopangnya. Ini termasuk pembentukan Koperasi Merah Putih di tingkat desa, penguatan peran Karang Taruna dalam pengelolaan Dana Ketahanan Pangan Desa, dan pelibatan multi-stakeholder mulai dari pemerintah pusat hingga elemen masyarakat lokal.

“Kami ingin membangun dari desa. Dari lahan yang selama ini dianggap kering, kita bisa hasilkan kehidupan. Tapi harus ada kolaborasi, visi yang terarah, dan komitmen jangka panjang,” jelas Bupati Yosef.

Baca Juga :  Koperasi Harus Jadi Fondasi Utama Ekonomi Masyarakat NTT

Dengan semangat swasembada, target ke depan tak hanya untuk mencukupi kebutuhan lokal. Kupang diarahkan untuk menjadi sentra produksi pangan di kawasan Nusa Tenggara Timur. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan keterlibatan Perum Bulog yang siap menyerap hasil panen, menjadi bagian penting dari sistem yang saling terhubung.

Panen ini, meski berskala desa, menyimpan narasi besar: Kupang sedang bergerak. Bukan hanya dalam pembangunan fisik, tapi dalam penyusunan ulang arah kebijakan yang menyentuh langsung kehidupan petani, pemuda, dan masyarakat desa.

Dari perayaan yang sederhana, lahirlah sebuah visi besar: Kupang tak sekadar menanam padi—Kupang sedang menanam masa depan.

Example floating