Dari Perbatasan untuk Negeri: Kami Hanya Butuh Sekolah Layak
Oleh: Mersiana Kolo
BELU, RFC – Di tengah gegap gempita perayaan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, realitas di wilayah perbatasan justru menyajikan ironi yang sulit untuk diabaikan.
Kemerdekaan yang seharusnya menjamin hak dasar setiap warga negara, termasuk hak atas pendidikan yang layak, belum sepenuhnya dirasakan oleh anak-anak bangsa di pelosok negeri.
Potret pendidikan di SMAK St. Agustinus Raimanuk, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, menjadi cermin nyata dari ketimpangan tersebut.
Ketika sebagian besar sekolah di perkotaan telah berbicara tentang digitalisasi pendidikan, smart classroom, hingga kurikulum berbasis teknologi, siswa-siswi di perbatasan justru masih berjuang di ruang kelas darurat—berlantai tanah, berdinding anyaman, dan beratap seng tua.
Pertanyaannya sederhana, namun menggugah: apakah ini wajah pendidikan Indonesia yang sesungguhnya?
Kondisi ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan persoalan keadilan.














