Surat Cinta dari IMF Kefamenanu: Menagih Humanisme yang Tergusur di Ende
Oleh : Wilhelmus Koli Purab Ketua Ikatan Mahasiswa Flores (IMF)
Kefamenanu, RFC – Angin muson yang berhembus dari arah kefamenanu membawa lebih dari sekadar uap air; ia membawa “surat cinta” yang getir. Namun, surat ini bukan berisi madu asmara, melainkan kritik tajam yang menghujam jantung kekuasaan di Kabupaten Ende. Dari kejauhan, para intelektual dan pengamat di kefemenanu sedang menyoroti sebuah paradoks kemanusiaan yang sedang diperagakan oleh Bupati Benediktus Badeoda dan sang istri, Ibu Cicit Badeoda.
Kebijakan penggusuran lapak pedagang di kawasan sempadan Ndao bukan lagi sekadar urusan tata ruang. Dari perspektif ilmiah, ini adalah studi kasus tentang bagaimana sebuah kekuasaan mengalami atrofi humanisme di tengah ambisi kosmetik pembangunan.
Anatomi Pembangunan yang “Autis”
Dalam diskursus Sosiologi Perkotaan, kebijakan penggusuran tanpa skema relokasi yang matang sering disebut sebagai Urban Cleansing—sebuah upaya estetisasi kota dengan menumbalkan kelompok rentan. Argumen pemerintah daerah yang berlindung di balik aturan “sempadan pantai” adalah bentuk legalisme buta.














