Example floating
Example floating
Berita

Surat Cinta dari IMF Kefamenanu: Menagih Humanisme yang Tergusur di Ende

Avatar photo
×

Surat Cinta dari IMF Kefamenanu: Menagih Humanisme yang Tergusur di Ende

Sebarkan artikel ini
Reporter: Wilhelmus Koli Purab |  Editor: Redaksi
surat-cinta-dari-imf-kefamenanu-menagih-humanisme-yang-tergusur-di-ende
Wilhelmus Koli Purab Ketua Ikatan Mahasiswa Flores (IMF)

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Surat Cinta dari IMF Kefamenanu: Menagih Humanisme yang Tergusur di Ende

Oleh : Wilhelmus Koli Purab Ketua Ikatan Mahasiswa Flores (IMF)

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Kefamenanu, RFC – Angin muson yang berhembus dari arah kefamenanu membawa lebih dari sekadar uap air; ia membawa “surat cinta” yang getir. Namun, surat ini bukan berisi madu asmara, melainkan kritik tajam yang menghujam jantung kekuasaan di Kabupaten Ende. Dari kejauhan, para intelektual dan pengamat di kefemenanu sedang menyoroti sebuah paradoks kemanusiaan yang sedang diperagakan oleh Bupati Benediktus Badeoda dan sang istri, Ibu Cicit Badeoda.

Baca Juga :  PMKRI Atambua Sorot Dugaan Pungli di Terminal Lolowa: Karcis Rp5 Ribu, Tapi Sopir Dipalak Rp10 Ribu!

Kebijakan penggusuran lapak pedagang di kawasan sempadan Ndao bukan lagi sekadar urusan tata ruang. Dari perspektif ilmiah, ini adalah studi kasus tentang bagaimana sebuah kekuasaan mengalami atrofi humanisme di tengah ambisi kosmetik pembangunan.

Baca Juga :  Kelola Keuangan Berbasis Digital, Sekjen ATR/BPN Dorong Transparansi Lewat Cash Management System

Anatomi Pembangunan yang “Autis”

Dalam diskursus Sosiologi Perkotaan, kebijakan penggusuran tanpa skema relokasi yang matang sering disebut sebagai Urban Cleansing—sebuah upaya estetisasi kota dengan menumbalkan kelompok rentan. Argumen pemerintah daerah yang berlindung di balik aturan “sempadan pantai” adalah bentuk legalisme buta.

Example floating