Example floating
Example floating
Berita

Surat Cinta dari IMF Kefamenanu: Menagih Humanisme yang Tergusur di Ende

Avatar photo
×

Surat Cinta dari IMF Kefamenanu: Menagih Humanisme yang Tergusur di Ende

Sebarkan artikel ini
Reporter: Wilhelmus Koli Purab |  Editor: Redaksi
surat-cinta-dari-imf-kefamenanu-menagih-humanisme-yang-tergusur-di-ende
Wilhelmus Koli Purab Ketua Ikatan Mahasiswa Flores (IMF)

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Surat dari kefamenanu ini membedah sebuah fakta ilmiah: bahwa ruang publik (sempadan) seharusnya bersifat inklusif. Mengusir pedagang kecil demi alasan “keindahan” tanpa mempertimbangkan variabel ekonomi kerakyatan adalah tindakan yang nirkemanusiaan.

Secara akademik, Bupati Benediktus tampaknya sedang mempraktikkan pembangunan top-down yang autis—sebuah kebijakan yang asyik dengan dunianya sendiri tanpa mau mendengar denyut nadi rakyat yang memberinya mandat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Paradoks Pelaporan: Fragilitas di Menara Gading

Baca Juga :  Peringatan BMKG Cuaca Tiga Hari Kedepan di NTT: Hujan dan Angin Kencang Mengancam Beberapa Wilayah

Surat tersebut juga menyoroti fenomena laporan polisi yang dilayangkan Ibu Cicit Badeoda. Dalam kacamata Psikologi Politik, langkah pelaporan atas dasar “gangguan psikis” anak pejabat di tengah badai protes rakyat adalah sebuah fragilitas kekuasaan.

Baca Juga :  BPD Loonuna Dinilai Banyak Alasan, Permintaan Rapat Terbuka Warga Disebut “Perintah”

Dari pemikir kota kefamenanu mencatat adanya asimetri empati yang sangat tajam. Pihak Rujab menuntut perlindungan hukum atas ketenangan domestik mereka, sementara di saat yang sama, kebijakan suaminya sedang menciptakan trauma struktural bagi anak-anak pedagang Ndao.

Example floating