Menjadikan psikis anak sebagai instrumen untuk membungkam demonstrasi adalah bentuk instrumentalisasi keluarga yang sangat tidak ilmiah. Seorang pemimpin seharusnya memiliki resiliensi mental untuk memahami bahwa kritik adalah “biaya sosial” dari sebuah jabatan publik.
Kritik Kefamenanu : Menolak Feodalisme Modern
Lebih jauh, tulisan dari kefemenanu ini menggugat gaya komunikasi kekuasaan di Ende yang mulai beraroma feodalistik. Penggunaan “tangki pikir” yang bernostalgia tentang hukum kolonial Belanda untuk melabeli Rujab sebagai ruang privat adalah sebuah kemunduran nalar.
Secara antropologi kekuasaan, tindakan menghindar dari massa aksi sebanyak tiga kali berturut-turut menunjukkan sebuah krisis kepemimpinan yang akut. Pemimpin yang takut menghadapi rakyatnya sendiri adalah pemimpin yang telah kehilangan legitimasi moral. Rakyat Ndao tidak datang untuk mengemis; mereka datang untuk menagih hak atas ruang hidup yang dijamin oleh konstitusi.
Menanti Pulihnya Akal Sehat
“Surat cinta” dari kefemenanu ini adalah sebuah pengingat bahwa Ende adalah rahim Pancasila. Sangatlah ironis jika di tanah tempat Bung Karno merenungkan kemanusiaan yang adil dan beradab, penguasanya justru mempraktikkan kebijakan yang dehumanis.














