Example floating
Example floating
Berita

Surat Cinta dari IMF Kefamenanu: Menagih Humanisme yang Tergusur di Ende

Avatar photo
×

Surat Cinta dari IMF Kefamenanu: Menagih Humanisme yang Tergusur di Ende

Sebarkan artikel ini
Reporter: Wilhelmus Koli Purab |  Editor: Redaksi
surat-cinta-dari-imf-kefamenanu-menagih-humanisme-yang-tergusur-di-ende
Wilhelmus Koli Purab Ketua Ikatan Mahasiswa Flores (IMF)

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Menjadikan psikis anak sebagai instrumen untuk membungkam demonstrasi adalah bentuk instrumentalisasi keluarga yang sangat tidak ilmiah. Seorang pemimpin seharusnya memiliki resiliensi mental untuk memahami bahwa kritik adalah “biaya sosial” dari sebuah jabatan publik.

Kritik Kefamenanu : Menolak Feodalisme Modern

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Lebih jauh, tulisan dari kefemenanu ini menggugat gaya komunikasi kekuasaan di Ende yang mulai beraroma feodalistik. Penggunaan “tangki pikir” yang bernostalgia tentang hukum kolonial Belanda untuk melabeli Rujab sebagai ruang privat adalah sebuah kemunduran nalar.

Baca Juga :  BEM STISIP Fajar Timur Soroti Politisasi Rumah Jabatan DPRD Belu, Ancam Aksi Massa

Secara antropologi kekuasaan, tindakan menghindar dari massa aksi sebanyak tiga kali berturut-turut menunjukkan sebuah krisis kepemimpinan yang akut. Pemimpin yang takut menghadapi rakyatnya sendiri adalah pemimpin yang telah kehilangan legitimasi moral. Rakyat Ndao tidak datang untuk mengemis; mereka datang untuk menagih hak atas ruang hidup yang dijamin oleh konstitusi.

Baca Juga :  Wafat Saat Khotbah, Detik-detik Terakhir Ustadz Yahya Waloni Bikin Haru Jamaah

Menanti Pulihnya Akal Sehat

“Surat cinta” dari kefemenanu ini adalah sebuah pengingat bahwa Ende adalah rahim Pancasila. Sangatlah ironis jika di tanah tempat Bung Karno merenungkan kemanusiaan yang adil dan beradab, penguasanya justru mempraktikkan kebijakan yang dehumanis.

Example floating