Selain input, tantangan lainnya adalah akses pasar. Skala produksi yang meningkat menuntut jejaring pemasaran yang lebih luas, dari pasar desa hingga pasar kecamatan, bahkan kemungkinan memasok ke pelaku usaha kuliner di kota kabupaten.
Dalam konteks ini, sinergi pemerintah desa, penyuluh, dan OPD teknis menjadi kunci—mulai dari fasilitasi kartu tani, penyaluran pupuk bersubsidi tepat sasaran, pelatihan pascapanen (grading, pengemasan), hingga koneksi ke pembeli tetap. Dengan demikian, produktivitas yang dihasilkan benar-benar termonetisasi dan memotivasi replikasi di lahan-lahan lain.
Patut digarisbawahi, inisiatif Yohanes menawarkan model sederhana namun strategis: (1) menata lahan dan memilih komoditas cepat panen (cabai, tomat, sawi/kol) untuk arus kas cepat; (2) menanam berjenjang agar panen berkelanjutan; (3) membangun kelompok belajar di tingkat dusun agar pengetahuan teknis tak berhenti di satu orang; dan (4) menyampaikan kebutuhan secara terbuka kepada pemerintah agar dukungan tepat guna dapat segera turun.














