“Negara tidak boleh abai. Jika konflik ini dibiarkan berlarut tanpa solusi, maka yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan itu sendiri,” jelasnya.
Dalam pernyataan sikapnya, GMNI Belu menyampaikan tiga poin penting sebagai bentuk rekomendasi dan tuntutan. Pertama, mereka mendesak tenaga medis, khususnya dokter, untuk tetap mengedepankan tanggung jawab kemanusiaan serta tidak menjadikan masyarakat sebagai korban dalam perjuangan kepentingan profesi.
Kedua, GMNI meminta pemerintah untuk segera menyelesaikan akar persoalan yang melatarbelakangi aksi mogok tersebut secara adil, transparan, dan komprehensif. Menurut Bayu, pemerintah harus hadir sebagai penengah yang mampu menjembatani kepentingan tenaga medis tanpa mengorbankan hak masyarakat.
Ketiga, GMNI mendorong dibukanya ruang dialog yang konstruktif antara pemerintah dan tenaga medis. Dialog tersebut dinilai penting untuk menemukan solusi jangka panjang tanpa harus mengganggu pelayanan kesehatan publik.
“Solusi harus dicari melalui dialog, bukan dengan menghentikan pelayanan. Semua pihak harus duduk bersama dan mengedepankan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama,” tegas Bayu.














