Target itu bukan sekadar angka. Di baliknya ada harapan agar para guru bisa memenuhi jam mengajar untuk memperoleh sertifikasi, sekaligus memastikan sekolah terus hidup dan berkembang.
Namun Jef mengakui, keterbatasan gedung menjadi salah satu alasan banyak orang tua memilih menyekolahkan anak-anak mereka ke tempat lain.
“Sebenarnya jumlah murid bisa lebih banyak, tetapi banyak orang tua yang memilih sekolah lain karena kami belum punya gedung sendiri,” katanya.
Baginya, sekolah tanpa gedung ibarat pohon tanpa akar yang kuat. Tetap tumbuh, tetapi selalu terancam tumbang kapan saja.
Pada kesempatan itu, Jef juga berharap agar pemerintah segera memberi perhatian serius terhadap kondisi SMPN Forekmodok. Ia bahkan menginginkan adanya perpustakaan kecil untuk menunjang budaya literasi anak-anak.
Sebab bagi sekolah di pelosok, perpustakaan bukan sekadar ruang buku, tetapi ruang harapan. Tempat di mana anak-anak belajar mengenal dunia lebih luas dari kampung halaman mereka.
Kini, di tengah bangunan yang rapuh dan lantai yang masih berdebu tanah, anak-anak Forekmodok tetap menyalakan mimpi. Mereka hanya menunggu satu hal: hadirnya bangunan nyata yang dapat menjadi rumah aman bagi cita-cita mereka.














