Salah satu ruang kelas bahkan terlihat dalam kondisi rusak berat, dengan lantai yang masih berupa tanah dan struktur bangunan yang mulai rapuh. Dinding-dinding tua berdiri dengan usia yang terus menggerus kekuatannya, sementara atapnya tampak renta seolah menunggu waktu untuk menyerah.
Di ruang yang nyaris roboh itu, suara anak-anak tetap terdengar membaca, menulis, dan bermimpi. Namun di balik semangat mereka, tersimpan kegelisahan: sampai kapan mereka harus belajar dalam kondisi seperti ini?
Kepala SMPN Forekmodok, Jef Nahak, mengaku kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi sekolah yang dipimpinnya. Ia menegaskan bahwa kebutuhan akan gedung permanen sudah sangat mendesak.
“Kami sangat membutuhkan gedung permanen. Proposal pengajuan pembangunan sudah kami masukkan ke dinas sejak tahun lalu, tetapi sampai hari ini belum ada realisasi,” ungkap Jef Nahak.
Menurutnya, saat ini jumlah siswa aktif di SMPN Forekmodok tercatat sebanyak 46 orang, setelah 16 siswa dinyatakan lulus. Sementara untuk tahun ajaran baru, sudah ada 20 siswa yang mendaftar, dengan target lebih dari 30 siswa agar bisa dibagi ke dalam dua rombongan belajar.














