Dalam surat tersebut, warga menegaskan bahwa sejarah geothermal di Flores dan Lembata bukanlah kisah tentang kemandirian energi atau kemajuan pembangunan sebagaimana sering dipaparkan dalam berbagai forum. Bagi mereka, sejarah itu adalah rangkaian panjang trauma yang belum pernah benar-benar sembuh.
“Sejarah kami adalah sejarah trauma dan luka bertubi-tubi,” demikian salah satu penegasan dalam surat terbuka tersebut.
Masyarakat kemudian menguraikan pengalaman yang mereka alami di sejumlah wilayah, seperti Mataloko, Ulumbu, Sokoria, Poco Leok, Wae Sano, Atadei, Lesugolo, Kombandaru, Nagekeo, hingga Oka Ile Ange. Mereka mengklaim proyek geothermal telah meninggalkan berbagai persoalan, mulai dari semburan lumpur dan gas, kerusakan sumber air, tanah yang mengalami amblesan, menurunnya produktivitas lahan pertanian, hingga munculnya konflik sosial di tengah masyarakat.
Bagi mereka, pembangunan tidak lagi dipandang sekadar menghadirkan infrastruktur atau investasi. Pembangunan, menurut isi surat tersebut, telah menghadirkan kekhawatiran akan hilangnya ruang hidup yang selama ini menjadi tempat mereka menggantungkan kehidupan.














