Suasana semakin khidmat saat Mars Beta Timor menggema memenuhi Aula Dekenat Malaka. Lantunan lagu itu bukan sekadar nyanyian, tetapi menjadi roh perjuangan yang menyatukan seluruh kader dalam satu semangat yang sama: menjaga tanah Timor, merawat persaudaraan, dan berdiri bagi kemanusiaan.
Lebih dari sekadar organisasi, Beta Timor bergerak dalam misi kemanusiaan. Menjangkau yang tak terjangkau, hadir bagi mereka yang luput dari perhatian, dan membantu mereka yang memang pantas dibantu. Itulah fondasi utama organisasi ini—menjadi tangan yang mengulurkan pertolongan, menjadi suara bagi yang tak terdengar, dan menjadi pelindung bagi mereka yang membutuhkan.
Langkah Bupati TTU menuju Malaka hari ini bukan hanya perjalanan lintas wilayah, tetapi perjalanan menjaga cita-cita yang pernah ia tanam sendiri. Dari hujan yang membasahi bumi hingga suara Mars yang menggema di aula, semuanya seolah menegaskan satu hal: bahwa perjuangan kemanusiaan tak pernah tunduk pada cuaca.
Di Aula Dekenat Malaka hari itu, Malaka menjadi saksi bahwa hujan boleh mengguyur tanpa henti, alam boleh tampak tak bersahabat, tetapi semangat persaudaraan dan kemanusiaan tetap berdiri tegak. Sebab bagi orang Timor, persaudaraan adalah akar yang tak mudah tercabut, dan Beta Timor adalah rumah tempat akar itu tumbuh, menguat, dan memberi kehidupan.














