Teknologi mampu memberikan informasi dalam waktu singkat. Namun, proses tersebut tidak selalu memberikan ruang yang cukup bagi mahasiswa untuk membangun argumentasi dan melakukan refleksi.
“Terjadi erosi pada proses berpikir mendalam akibat logika komputasional yang serba instan,” ujar Lasarus.
Menurut dia, perkembangan masyarakat data juga membuat otoritas pengetahuan semakin banyak bergeser ke platform digital.
Akibatnya, ukuran kebenaran berpotensi bergeser dari kedalaman analisis akademik menuju popularitas atau viralitas suatu informasi.
“Kebenaran kini sering kali diukur dari viralitas platform, bukan kedalaman akademis,” katanya.
Karena itu, mahasiswa dan akademisi perlu mempertahankan kebiasaan membaca mandiri serta membangun ruang diskusi kritis.
Sekretaris Umum APSSI, Dr. Idham Irwansyah Idrus, S.Sos., M.Pd., mengatakan perkembangan AI membutuhkan perubahan orientasi pembelajaran.
Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali kemampuan menggunakan berbagai aplikasi AI.
Mereka harus mampu memahami bagaimana teknologi bekerja, menilai informasi yang dihasilkan, serta mengidentifikasi potensi bias dan dampaknya terhadap masyarakat.














