Example floating
Example floating
Opini

Mahasiswa Apatis di Bawah Bayang Kapitalisme Kampus: Intelektual yang Kehilangan Arah

Avatar photo
×

Mahasiswa Apatis di Bawah Bayang Kapitalisme Kampus: Intelektual yang Kehilangan Arah

Sebarkan artikel ini
Reporter: Arianto |  Editor: Redaksi
Mahasiswa Apatis di Bawah Bayang Kapitalisme Kampus: Intelektual yang Kehilangan Arah
Mahasiswa Apatis di Bawah Bayang Kapitalisme Kampus: Intelektual yang Kehilangan Arah

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Akibatnya, lahirlah generasi mahasiswa yang cerdas secara teknis, tetapi tumpul secara kritis. Mereka mampu menyelesaikan persoalan akademik, tetapi gagap membaca realitas sosial.

Mereka pandai berbicara di ruang presentasi, tetapi bungkam di hadapan ketidakadilan.
Lebih ironis lagi, sebagian mahasiswa justru bangga dengan kondisi ini.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Mereka mengukur keberhasilan dari indeks prestasi, jumlah sertifikat, dan peluang kerja di perusahaan besar. Tanpa sadar, mereka telah menerima logika kapitalisme sebagai satu-satunya jalan hidup. Mereka tidak lagi mempertanyakan sistem, melainkan berusaha menyesuaikan diri sepenuhnya dengan sistem tersebut.

Baca Juga :  Ketua BEM STISIP Fajar Timur Atambua Konsolidasi Massa, Soroti Dugaan Penyalahgunaan Rujab Ketua DPRD Belu

Di titik inilah apatisme menemukan bentuk barunya. Ia tidak lagi hadir sebagai ketidaktahuan, tetapi sebagai pilihan sadar untuk tidak peduli. Mahasiswa tahu ada ketidakadilan, tetapi memilih diam karena merasa itu bukan urusannya. Mereka tahu ada eksploitasi, tetapi menganggapnya sebagai “konsekuensi sistem”.

Baca Juga :  Menuju Organisasi Progresif, PMKRI Malaka Gelar POFRAKER untuk Perkuat Arah Gerakan Kader

Apatisme jenis ini jauh lebih berbahaya, karena ia tidak terlihat sebagai masalah. Ia bersembunyi di balik kesibukan, prestasi, dan ambisi pribadi. Ia membuat mahasiswa merasa baik-baik saja, padahal sedang kehilangan peran historisnya.

Example floating