Akibatnya, lahirlah generasi mahasiswa yang cerdas secara teknis, tetapi tumpul secara kritis. Mereka mampu menyelesaikan persoalan akademik, tetapi gagap membaca realitas sosial.
Mereka pandai berbicara di ruang presentasi, tetapi bungkam di hadapan ketidakadilan.
Lebih ironis lagi, sebagian mahasiswa justru bangga dengan kondisi ini.
Mereka mengukur keberhasilan dari indeks prestasi, jumlah sertifikat, dan peluang kerja di perusahaan besar. Tanpa sadar, mereka telah menerima logika kapitalisme sebagai satu-satunya jalan hidup. Mereka tidak lagi mempertanyakan sistem, melainkan berusaha menyesuaikan diri sepenuhnya dengan sistem tersebut.
Di titik inilah apatisme menemukan bentuk barunya. Ia tidak lagi hadir sebagai ketidaktahuan, tetapi sebagai pilihan sadar untuk tidak peduli. Mahasiswa tahu ada ketidakadilan, tetapi memilih diam karena merasa itu bukan urusannya. Mereka tahu ada eksploitasi, tetapi menganggapnya sebagai “konsekuensi sistem”.
Apatisme jenis ini jauh lebih berbahaya, karena ia tidak terlihat sebagai masalah. Ia bersembunyi di balik kesibukan, prestasi, dan ambisi pribadi. Ia membuat mahasiswa merasa baik-baik saja, padahal sedang kehilangan peran historisnya.














