Tragedi YBR: Ketika Kemiskinan, Absennya Ayah, dan Negara yang Terlambat Bertindak Bertemu dalam Satu Nasib Anak
Negara Memberi Makan, Tapi Apakah Memberi Masa Depan?
Oleh: AI Fonzo
RFC,Kematian YBR (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, bukan sekadar berita duka. Ia adalah potret telanjang tentang bagaimana kemiskinan, ketidakhadiran figur ayah, dan lemahnya sistem perhatian sosial terhadap anak bertemu dalam satu titik paling tragis: hilangnya nyawa seorang anak.
Peristiwa ini dipicu oleh faktor ekonomi. Di banyak pelosok daerah, termasuk Jerebuu, kemiskinan bukan lagi sekadar soal kurang uang, tetapi telah menjelma menjadi krisis harapan. Anak-anak tumbuh dalam tekanan hidup yang tidak seharusnya mereka tanggung. Mereka dipaksa dewasa sebelum waktunya, memahami lapar, beban keluarga, bahkan konflik orang tua.
Kemiskinan yang Memaksa Anak Menjadi Korban
Ekonomi bukan hanya soal angka pendapatan, tetapi soal pilihan hidup. Ketika keluarga hidup dalam kondisi serba kekurangan, anak sering kali menjadi pihak yang paling terdampak. Kebutuhan dasar seperti makanan bergizi, rasa aman, dan pendidikan yang layak berubah menjadi kemewahan.
Dalam konteks YBR, faktor ekonomi bukan hanya latar belakang, melainkan tekanan struktural. Kemiskinan membuat rumah kehilangan fungsi sebagai tempat perlindungan. Ia berubah menjadi ruang penuh stres, konflik, dan keputusasaan. Anak tidak lagi tumbuh dengan imajinasi masa depan, tetapi dengan rasa takut akan hari esok.
Ayah yang Pergi, Tanggung Jawab yang Ikut Hilang
Lebih menyedihkan lagi, YBR tumbuh tanpa kehadiran ayah yang telah lama meninggalkan mereka. Ini bukan sekadar soal perpisahan rumah tangga, tetapi tentang absennya tanggung jawab moral dan sosial seorang ayah terhadap darah dagingnya sendiri.
Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi pilar psikologis keluarga. Ketika seorang ayah pergi tanpa tanggung jawab, yang tertinggal bukan hanya ibu yang berjuang sendirian, tetapi anak yang kehilangan figur perlindungan, teladan, dan rasa aman.
Dalam banyak kasus di masyarakat kita, ayah yang pergi sering kali “menghilang secara sosial”. Tidak ada nafkah, tidak ada komunikasi, tidak ada empati. Negara pun seolah membiarkan praktik ini menjadi normal. Tidak ada mekanisme kuat yang memaksa ayah bertanggung jawab secara hukum dan moral terhadap anak-anak yang ia tinggalkan.
YBR adalah korban dari sistem yang terlalu permisif terhadap laki-laki yang lari dari tanggung jawab keluarga.
Pendidikan yang Gagal Menjadi Alarm Dini
Sekolah seharusnya menjadi ruang kedua setelah rumah untuk mendeteksi masalah anak. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penjaga kemanusiaan. Namun dalam realitas kita, sistem pendidikan sering kali terlalu fokus pada kurikulum, nilai, dan administrasi, lupa bahwa di balik seragam ada anak yang sedang terluka.
Pertanyaannya: apakah perubahan perilaku YBR pernah terbaca? Apakah ada tanda-tanda tekanan psikologis yang terabaikan? Apakah sekolah memiliki mekanisme konseling, pendampingan, atau pelaporan sosial?
Jika tidak, maka tragedi ini bukan hanya kegagalan keluarga, tetapi juga kegagalan sistem pendidikan yang belum sensitif terhadap krisis mental dan sosial anak.
Negara Memberi Makan, Tapi Apakah Memberi Masa Depan?
Dalam beberapa waktu terakhir, negara gencar menggaungkan program makanan gratis bagi anak-anak sekolah. Secara moral, kebijakan ini patut diapresiasi karena menyentuh kebutuhan dasar: mengurangi lapar. Namun pertanyaan mendasarnya adalah, apakah negara berhenti pada urusan perut semata?
Anak tidak hanya hidup dari nasi dan lauk. Mereka hidup dari akses pendidikan yang utuh: buku tulis, alat tulis, seragam, sepatu, tas, hingga biaya-biaya kecil yang sering luput dari perhatian kebijakan. Bagi keluarga miskin, harga satu buku tulis bisa lebih berat daripada satu piring makan.
Ironisnya, negara seolah lebih sibuk memastikan anak tidak lapar di sekolah, tetapi abai memastikan anak bisa belajar dengan layak di dalam kelas. Apa artinya perut kenyang jika anak tetap duduk tanpa buku, menulis dengan pensil sisa, dan pulang dengan kepala penuh kecemasan karena besok tidak tahu harus belajar dengan apa?
Dalam konteks YBR, ini menjadi refleksi pahit: negara hadir memberi makan, tetapi belum sepenuhnya hadir memberi masa depan. Padahal, kemiskinan struktural tidak bisa diselesaikan hanya dengan logistik pangan, melainkan dengan investasi serius pada pendidikan sebagai jalan keluar jangka panjang.
Negara Hadir Setelah Anak Meninggal
Ironisnya, negara sering kali baru hadir setelah tragedi terjadi. Setelah ada korban, barulah muncul rapat, pernyataan duka, dan janji evaluasi. Padahal, yang dibutuhkan anak-anak seperti YBR adalah kehadiran negara sebelum mereka jatuh.
Negara seharusnya hadir melalui:
Sistem perlindungan anak berbasis desa,
Pendataan keluarga rentan,
Pengawasan terhadap orang tua yang menelantarkan anak,
Layanan konseling gratis di sekolah.
Tanpa itu, kita hanya akan terus memproduksi tragedi demi tragedi.
YBR Bukan yang Terakhir, Jika Kita Tetap Diam
Kematian YBR harus menjadi cermin kolektif. Ia bukan semata-mata korban ekonomi, bukan hanya korban keluarga broken, dan bukan sekadar anak yang kurang perhatian sekolah. Ia adalah korban dari rantai kelalaian sosial yang panjang.
Jika kemiskinan terus dibiarkan tanpa intervensi serius, jika ayah-ayah tetap bebas meninggalkan anak tanpa sanksi moral dan hukum, jika sekolah tetap buta terhadap luka batin murid, maka YBR-YBR lain hanya tinggal menunggu waktu.
Dan saat itu terjadi, kita semua—orang tua, negara, sekolah, dan masyarakat—tidak lagi berhak bertanya: mengapa ini bisa terjadi?
Karena sejatinya, kita sudah lama tahu jawabannya, tetapi memilih untuk diam.














