Hingga berita ini diturunkan, pemeriksaan terhadap Bripka AB dan dua oknum lainnya masih berlangsung. Publik menunggu langkah nyata kepolisian untuk memastikan proses hukum berjalan adil dan transparan.
Bagi GMNI NTT, kasus ini adalah cermin rapuhnya integritas aparat penegak hukum di daerah. Bria menegaskan, mahasiswa tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan.
“Kami akan terus kawal kasus ini sampai keadilan ditegakkan. Polri harus menunjukkan komitmen bahwa tidak ada tempat bagi pelaku kekerasan di tubuhnya sendiri,” tegasnya lagi.
GMNI juga mengajak organisasi mahasiswa, aktivis HAM, dan masyarakat sipil di NTT untuk bersatu melawan praktik kekerasan aparat, terutama terhadap kelompok rentan seperti anak di bawah umur.
Catatan Redaksi ReformaNews.com
Kasus dugaan penganiayaan oleh Bripka AB kini menjadi sorotan publik luas di Malaka dan NTT. Keberanian mahasiswa menuntut transparansi diharapkan menjadi momentum bagi reformasi etik dan profesionalisme Polri di tingkat daerah.














