Example floating
Example floating
Berita

Ketika Waisak Menjadi Gerakan Sosial: Wajah Kepedulian Umat Buddha di Kota Kupang

Avatar photo
×

Ketika Waisak Menjadi Gerakan Sosial: Wajah Kepedulian Umat Buddha di Kota Kupang

Sebarkan artikel ini
ketika-waisak-menjadi-gerakan-sosial-wajah-kepedulian-umat-buddha-di-kota-kupang
Ketika Waisak Menjadi Gerakan Sosial: Wajah Kepedulian Umat Buddha di Kota Kupang

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Ketika Waisak Menjadi Gerakan Sosial: Wajah Kepedulian Umat Buddha di Kota Kupang

KUPANG, RFC – Hari Raya Waisak sering dipahami sebagai perayaan spiritual umat Buddha. Namun di Kota Kupang, Waisak tahun 2570 BE hadir dengan makna yang lebih luas.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Ia tidak berhenti di altar, doa, dan ritual keagamaan.

Baca Juga :  PHPT PMKRI Salatiga Kecam Tindakan Represif Aparat terhadap Warga dan Aktivis PMKRI Ende

Waisak menjelma menjadi gerakan sosial yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Melalui berbagai kegiatan kemanusiaan yang digelar Perkumpulan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), semangat cinta kasih diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Baca Juga :  Refleksi 140 Tahun Kota Kupang: Otonomi sebagai Tanggung Jawab Publik, Bukan Sekadar Kewenangan

Donor darah, bakti sosial, aksi peduli lingkungan, hingga kunjungan ke panti sosial menjadi bagian dari rangkaian perayaan tahun ini.

Bagi Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, kegiatan-kegiatan tersebut menunjukkan bahwa nilai agama memiliki daya hidup yang kuat ketika diwujudkan dalam tindakan konkret.

Baca Juga :  Krisanti Haumen Terpilih sebagai Ketua Panitia MPAB PMKRI St. Yosef Malaka 2025/2026, Tekankan Sinergi dan Kesuksesan Bersama

“Nilai agama harus hadir dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Pernyataan itu mencerminkan sebuah pandangan bahwa keberhasilan kehidupan beragama tidak hanya diukur dari banyaknya ritual yang dilakukan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

Example floating