Namun Tiyo kembali menegaskan bahwa yang ia persoalkan bukan profesi wartawan, melainkan relevansi pengalaman tersebut dengan pengelolaan program gizi nasional.
“Apa hubungannya wartawan dengan pengelolaan gizi anak-anak?” tanya Tiyo.
Astrio kemudian menjelaskan bahwa memimpin BGN tidak harus berlatar belakang ahli gizi. Menurutnya, yang lebih penting adalah kemampuan manajerial, tata kelola program, pengelolaan rantai pasok, serta memastikan program berjalan tepat sasaran.
“Yang diperlukan adalah bagaimana menjalankan program ini agar tepat sasaran, memanajemeni supply chain-nya, mengelola tata kelolanya, agar program ini dapat bermanfaat,” jelas Astrio.
Jawaban tersebut kemudian dimanfaatkan Tiyo untuk memperkuat kritiknya. Ia menilai pernyataan Astrio secara tidak langsung mengonfirmasi bahwa kompetensi substantif bukan lagi pertimbangan utama dalam penempatan pejabat publik.
“Nah, inilah wajah dari istana kita, bahwa kompetensi memang tidak diperlukan. Terima kasih konfirmasinya,” sergah Tiyo.














