Example floating
Example floating
Berita

BEM STISIP Fajar Timur Atambua Kritik Bupati Belu, Nilai Anggaran Daerah Lebih Banyak Dihabiskan untuk Seremoni

Avatar photo
×

BEM STISIP Fajar Timur Atambua Kritik Bupati Belu, Nilai Anggaran Daerah Lebih Banyak Dihabiskan untuk Seremoni

Sebarkan artikel ini
Reporter: Arianto |  Editor: Redaksi
BEM STISIP Fajar Timur Atambua Kritik Bupati Belu, Nilai Anggaran Daerah Lebih Banyak Dihabiskan untuk Seremoni
Potret Ketua BEM STISIP Fajar Timur Atambua dan Bupati Belu ( Wilfridus kali dan Wilibrodus Lai )

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

BEM STISIP Fajar Timur Atambua Kritik Bupati Belu, Nilai Anggaran Daerah Lebih Banyak Dihabiskan untuk Seremoni

 

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

BELU, RFC – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STISIP Fajar Timur Atambua melontarkan kritik terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten Belu yang dinilai lebih mengutamakan kegiatan seremonial dibandingkan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Baca Juga :  Inspektorat Kabupaten Malaka Dinilai Lumpuh, Afon Nahak Desak Bupati Copot Pj Desa Maktihan

 

Ketua BEM STISIP Fajar Timur Atambua, Melfridus Kali, melalui pesan WhatsApp kepada media Reformanews.com pada Rabu (24/06/2026), menilai Bupati Belu, Willybrodus Lay, belum mampu membaca kebutuhan prioritas masyarakat di tengah kondisi efisiensi anggaran dan berbagai persoalan yang masih dihadapi warga.

Baca Juga :  Operasi Satgas di Raihat Diduga Brutal, Warga Babak Belur dan Nenek Ditodong Pistol

 

Menurut Melfridus, pemerintah daerah saat ini terkesan lebih fokus pada penyelenggaraan kegiatan-kegiatan seremonial yang ramai dan menarik perhatian publik, namun belum memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :  Dari Perbatasan untuk Negeri: Kami Hanya Butuh Sekolah Layak

 

“Bupati Belu seolah lebih sibuk membangun panggung hiburan daripada membangun kesejahteraan rakyat. Anggaran daerah digunakan untuk kegiatan yang ramai di permukaan, tetapi tidak memberikan jawaban atas persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat setiap hari,” ujar Melfridus.

Example floating