NTP NTT Masih di Atas 100, Tapi Terus Turun: Siapa yang Tertekan di Balik Angka 101,55?
Kupang, RFC – Angka 101,55 sekilas tampak menenangkan. Dalam statistik pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) di atas 100 menandakan bahwa secara rata-rata pendapatan petani masih lebih tinggi dibandingkan pengeluarannya. Namun, ketika angka itu terus menurun dari bulan ke bulan, pertanyaannya tidak lagi sesederhana “masih untung atau tidak”, melainkan siapa yang sebenarnya sedang tertekan di balik angka agregat tersebut.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur, Matamira B. Kale, dalam press rilis yang diterima media ini pada Senin (5/1/2026), menjelaskan bahwa NTP NTT November 2025 tercatat sebesar 101,55, turun 0,24 persen dibandingkan Oktober 2025 yang berada di level 101,79. Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) turun 0,11 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) justru naik 0,13 persen.
Secara metodologis, selisih tersebut memang kecil. Namun secara ekonomi, ia menyimpan pesan penting: daya beli petani sedang tergerus secara perlahan.
NTP di Atas 100, Tetapi Tidak Nyaman
Dalam kajian ekonomi perdesaan, NTP sering dijadikan indikator kesejahteraan petani. Namun, Matamira menegaskan bahwa angka agregat tidak selalu mencerminkan kondisi riil di lapangan.














