Di sektor perikanan, NTP turun 0,45 persen, terutama akibat penurunan harga di subsektor perikanan budidaya. Sementara nelayan tangkap relatif stabil, pembudidaya ikan menghadapi tekanan ganda: harga jual melemah, biaya pakan dan kebutuhan rumah tangga meningkat.
Sebaliknya, beberapa subsektor justru mencatat kenaikan. Tanaman pangan naik 0,67 persen, didorong oleh kenaikan harga jagung dan gabah. Peternakan juga tumbuh 0,41 persen, seiring membaiknya harga sapi potong dan babi.
Namun, Matamira mengingatkan bahwa struktur rumah tangga petani di NTT bersifat majemuk.
“Banyak petani mengusahakan lebih dari satu subsektor. Jadi kenaikan di satu sisi belum tentu menutup penurunan di sisi lain,” jelasnya.
NTP: Biaya Hidup Naik, Margin Petani Menyempit
Salah satu faktor kunci di balik turunnya NTP adalah kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). Pada November 2025, Ib naik menjadi 119,42 dari 119,27 pada Oktober 2025.
Kenaikan ini terjadi di seluruh subsektor pertanian, menandakan bahwa tekanan biaya bersifat sistemik, bukan sektoral. Komoditas seperti beras, bawang merah, telur ayam ras, kopi, daging ayam, hingga ikan tongkol dan cakalang menjadi penyumbang utama kenaikan biaya konsumsi rumah tangga perdesaan.














