Ibu Urni Babys menambahkan nada serupa: kedatangan tim adalah untuk “mengamati, menilai, dan menuliskan” capaian sekolah sampai hari ini. “Proses akreditasi dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Kami di sini untuk memotret situasi nyata SMA Halioan,” ujar Urni, menegaskan bahwa asesmen lapangan penting agar laporan sekolah sesuai kondisi di lapangan.
Kepala Sekolah, Sisilia Simande Mea, S.Pd., menyampaikan sambutan penuh emosi yang merangkum perjalanan panjang SMA Negeri Halioan. Ia mengingat masa sulit ketika pada 2013 sekolah masih menumpang belajar di SD setempat karena belum memiliki gedung sendiri. Pada 2018, sekolah mendirikan ruang darurat dengan atap tali gewang, dinding bambu, bahkan bangku dari bambu — kondisi yang memaksa seluruh warga sekolah untuk terus berjuang demi keberlangsungan pendidikan. “Kami tidak pernah berhenti berjuang,” kata Sisilia sambil menatap para tamu dan orangtua murid.
Perjuangan itu, menurut Sisilia, membuahkan hasil setelah upaya advokasi ke pusat. Pada 2020 SMA Halioan menerima empat ruang kelas baru (RKB) dan dua toilet; kemudian pada 2021 bertambah dua RKB lagi. Meskipun alat laboratorium untuk kimia, fisika, dan biologi sudah tersedia, beberapa kegiatan praktikum masih berlangsung di ruang kelas karena keterbatasan gedung khusus. Sisilia menyampaikan rasa terima kasih kepada orangtua dan komunitas yang terus mendukung sekolah dalam segala bentuk, sehingga kunjungan tim asesor provinsi kini menjadi kenyataan.






