Ferross mengaku dirinya bukan orang baru dalam dunia gerakan mahasiswa. Ia pernah berdiri di jalanan, berorasi, menyuarakan tuntutan rakyat, dan mengkritik pemerintah dalam berbagai momentum perjuangan. Namun menurutnya, kritik harus selalu lahir dari substansi, data, dan solusi.
“Kami pernah turun ke jalan, berteriak, bahkan keras dalam menyuarakan ketidakadilan. Tapi satu hal yang kami pegang, jangan sampai kritik berubah menjadi penghinaan,” katanya.
Ferross secara khusus menyoroti mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang dalam beberapa pekan terakhir viral secara nasional akibat sejumlah pernyataannya yang menuai kontroversi. Salah satu yang paling menjadi perhatian publik adalah ketika Tiyo mengaitkan seekor kucing dengan simbol kepala negara.
Menurut Ferross, kritik terhadap kebijakan pemerintah adalah sesuatu yang sah dan sehat dalam demokrasi. Namun ketika simbol-simbol yang digunakan mulai mengarah pada pelecehan terhadap Presiden dan Wakil Presiden, maka hal itu telah keluar dari esensi kritik itu sendiri.














