“Hari ini bukan sekadar seremoni. Hari ini adalah pengingat bahwa tanpa guru, tidak ada yang namanya sarjana. Tidak ada dokter, tidak ada insinyur, tidak ada pemimpin, dan tidak ada masa depan yang bisa kita banggakan sebagai bangsa,” tegas Sesilia dalam sambutannya.
Pernyataan tersebut langsung memantik perhatian peserta upacara. Kalimat sederhana namun tajam itu menyiratkan pesan mendalam: profesi guru adalah mata air segala ilmu, sumber awal dari setiap keahlian yang dimiliki generasi bangsa.
Sesilia kemudian mengutip sebuah pepatah kuno yang sarat makna: “Guru adalah pelita dalam kegelapan, penuntun dalam kebodohan.” Pepatah ini, kata dia, bukan hanya simbol penghormatan, tetapi sebuah pernyataan bahwa kehadiran guru merupakan fondasi utama terciptanya peradaban.
Menghormati Guru adalah Menjaga Martabat Bangsa
Dalam orasinya, Sesilia menyerukan agar masyarakat, terutama orang tua dan pemerintah daerah, semakin memperkuat dukungan terhadap profesi guru. Ia menekankan, menghormati guru bukan hanya tindakan sosial, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap martabat bangsa itu sendiri.














