Menurutnya, keterbatasan meja dan kursi tersebut turut memengaruhi aktivitas siswa saat mengikuti pelajaran, terutama ketika membaca, menulis dan mengerjakan tugas.
Namun, persoalan fasilitas bukan satu-satunya kendala yang dihadapi SDK Hanono. Dalam kesempatan yang sama, para guru juga mengeluhkan ketiadaan kepala sekolah yang telah berlangsung selama dua bulan.
Kepala sekolah sebelumnya meninggal dunia sekitar dua bulan lalu. Hingga Kamis (3/9/2026), belum ada penunjukan Pelaksana Tugas (Plt.) kepala sekolah dari Dinas Pendidikan Kabupaten Malaka.
Ketiadaan kepala sekolah tersebut disebut berdampak pada sejumlah urusan administrasi sekolah, termasuk pengurusan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahap I dan tahap II yang hingga kini belum terselesaikan.
Dampaknya, sembilan guru honorer mengaku telah dua bulan belum menerima hak mereka. Meski menghadapi kondisi tersebut, para guru honorer tetap menjalankan tugas mengajar seperti biasa.
Salah satu guru honorer, Dionesia Un, mengatakan dirinya bersama guru honorer lainnya tetap melaksanakan tugas meski hak mereka belum diterima selama dua bulan.














