Ironisnya, ketika hujan turun, siswa kelas I dan II tidak dapat belajar di bangunan darurat karena dikhawatirkan membahayakan keselamatan mereka. Seluruh siswa kemudian digabung ke ruang kelas III dan IV, bahkan sebagian harus belajar di ruang guru. Akibatnya, dua guru terpaksa mengajar dua kelas dalam satu ruangan secara bersamaan sehingga proses pembelajaran tidak berjalan maksimal.
Pantauan awak media juga menemukan kondisi tiga ruang permanen yang mulai mengalami kerusakan. Sejumlah kaca jendela telah pecah, plafon rusak di beberapa bagian, dan lantai dipenuhi debu. Bangunan yang dibangun melalui Program PNPM pada 2014 dan mulai digunakan pada 2015 itu hingga kini belum pernah mendapat program rehabilitasi maupun pembangunan ruang kelas baru dari pemerintah.
Saat ini SDN Nunfutu memiliki 68 siswa, belum termasuk calon siswa kelas I yang masih dalam proses pendaftaran. Di tengah keterbatasan tersebut, kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan oleh 13 tenaga pendidik dan kependidikan, terdiri dari 8 guru PPPK, 1 guru PNS, 4 guru honorer, serta 1 tenaga kependidikan (Tendik).














