Kepala SMAN Halioan, Sisilia Simande Mea, kepada wartawan menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilakukan karena hewan ternak yang dilepas bebas oleh pemiliknya sering masuk ke lingkungan sekolah.
“Binatang piaraan seperti kambing sering masuk ke area sekolah. Kami khawatir jika dibiarkan terus-menerus dapat merusak bangunan maupun fasilitas sekolah lainnya. Karena itu, hari ini para guru bersama siswa bergotong royong membuat pagar,” ujarnya.
Menurut Sisilia, pagar kayu dan bambu tersebut menjadi solusi sementara untuk melindungi lingkungan sekolah. Namun karena berbahan sederhana, pagar itu harus rutin diperbaiki dan diganti apabila mulai lapuk.
“Setiap tiga sampai empat bulan biasanya ada bagian yang rusak atau lapuk sehingga harus diganti lagi. Kami berupaya menjaga agar pagar tetap berfungsi dengan baik,” katanya.
Bagi warga sekolah, pagar itu bukan sekadar susunan kayu dan bambu. Ia menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan belajar. Setiap bambu yang ditancapkan menyimpan harapan agar siswa dapat belajar dengan nyaman tanpa gangguan yang dapat merusak fasilitas pendidikan.














