Example floating
Example floating
Opini

Menggugat Kesetaraan Semu Alat Bukti: Urgensi Hierarki Epistemik dalam Peradilan Pidana Indonesia

Avatar photo
×

Menggugat Kesetaraan Semu Alat Bukti: Urgensi Hierarki Epistemik dalam Peradilan Pidana Indonesia

Sebarkan artikel ini
Reporter: amor |  Editor: admin
Menggugat Kesetaraan Semu Alat Bukti: Urgensi Hierarki Epistemik dalam Peradilan Pidana Indonesia

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

Apakah dua alat bukti yang lemah otomatis lebih kuat daripada satu bukti objektif yang sangat kuat?
Jawabannya tidak sesederhana menghitung jumlah.

Dua alat bukti yang berasal dari sumber yang sama, saling bergantung, atau memiliki kelemahan mendasar tidak otomatis melahirkan kebenaran hanya karena jumlahnya dua.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Inilah yang dapat disebut sebagai ilusi kuantitas pembuktian.

Baca Juga :  Career Anxiety (Kecemasan Karier)

Yang harus dihitung bukan hanya jumlah alat bukti, tetapi juga kualitas, independensi, dan reliabilitasnya.
Beyond Reasonable Doubt sebagai Standar Rasional
Pada akhirnya, pembuktian pidana bermuara pada satu prinsip universal: jangan menghukum seseorang apabila masih terdapat keraguan yang beralasan mengenai kesalahannya.

Baca Juga :  Keripik Pisang “Auren” dari Perbatasan RI–RDTL: Cita Rasa Lokal, Sentuhan TNI Yonarmed 12 Kostrad Sektor Timur

Standar beyond reasonable doubt tidak menuntut kepastian matematis. Namun, ia menuntut keyakinan yang sangat kuat, rasional, dan didukung oleh pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Apabila terdapat dua versi fakta, sementara satu versi hanya bertumpu pada kesaksian yang berubah-ubah dan versi lainnya didukung bukti objektif yang dapat diverifikasi, maka hakim memiliki kewajiban moral dan hukum untuk menguji secara serius versi mana yang lebih rasional.

Example floating