Example floating
Example floating
Opini

Menggugat Kesetaraan Semu Alat Bukti: Urgensi Hierarki Epistemik dalam Peradilan Pidana Indonesia

Avatar photo
×

Menggugat Kesetaraan Semu Alat Bukti: Urgensi Hierarki Epistemik dalam Peradilan Pidana Indonesia

Sebarkan artikel ini
Reporter: amor |  Editor: admin
Menggugat Kesetaraan Semu Alat Bukti: Urgensi Hierarki Epistemik dalam Peradilan Pidana Indonesia

Dukung Liputan Redaksi ReformaNews.Com

+ Donasi

“Apakah ini alat bukti yang sah?”
Hakim harus melangkah lebih jauh:
“Seberapa dapat dipercaya alat bukti ini?”
dan

“Seberapa kuat alat bukti ini menjelaskan fakta yang harus dibuktikan?”
Legalitas suatu bukti dan kekuatan pembuktiannya merupakan dua hal yang berbeda. Sebuah bukti dapat sah menurut hukum, tetapi belum tentu memiliki daya pembuktian yang tinggi. Sebaliknya, suatu informasi dapat sangat kuat secara ilmiah, tetapi tetap harus diuji apakah diperoleh melalui prosedur hukum yang sah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
atr-bpn-midle
Advertising

Dengan demikian, sistem pembuktian yang sehat harus mampu membedakan antara admissibility (kelayakan bukti untuk diterima) dan probative value (bobot pembuktian yang dimilikinya).
Kesaksian Manusia Bukan Kebenaran Absolut

Baca Juga :  Mengenal Tren Karier Anak Muda Indonesia di Era Serba Digital: Dinamika, Tantangan, dan Peluang di Dunia Kerja Modern

Dalam banyak perkara pidana, kesaksian menjadi pusat pembuktian. Padahal, kesaksian manusia bukanlah rekaman video yang mampu merekam realitas secara sempurna.

Saksi dapat keliru melihat, salah mengingat, mengalami trauma, dipengaruhi lingkungan, memiliki kepentingan tertentu, bahkan mengalami perubahan persepsi setelah menerima informasi dari pihak lain.

Example floating