“Apakah ini alat bukti yang sah?”
Hakim harus melangkah lebih jauh:
“Seberapa dapat dipercaya alat bukti ini?”
dan
“Seberapa kuat alat bukti ini menjelaskan fakta yang harus dibuktikan?”
Legalitas suatu bukti dan kekuatan pembuktiannya merupakan dua hal yang berbeda. Sebuah bukti dapat sah menurut hukum, tetapi belum tentu memiliki daya pembuktian yang tinggi. Sebaliknya, suatu informasi dapat sangat kuat secara ilmiah, tetapi tetap harus diuji apakah diperoleh melalui prosedur hukum yang sah.
Dengan demikian, sistem pembuktian yang sehat harus mampu membedakan antara admissibility (kelayakan bukti untuk diterima) dan probative value (bobot pembuktian yang dimilikinya).
Kesaksian Manusia Bukan Kebenaran Absolut
Dalam banyak perkara pidana, kesaksian menjadi pusat pembuktian. Padahal, kesaksian manusia bukanlah rekaman video yang mampu merekam realitas secara sempurna.
Saksi dapat keliru melihat, salah mengingat, mengalami trauma, dipengaruhi lingkungan, memiliki kepentingan tertentu, bahkan mengalami perubahan persepsi setelah menerima informasi dari pihak lain.














