Idul Fitri, Ruang Hidup, dan Transisi Energi yang Adil
Oleh: Egidius Ronikung (Co-Founder Kenari)
BELU, RFC — Idul Fitri kerap dimaknai sebagai momentum kembali kepada kesucian diri. Namun, dalam kehidupan sosial dan politik, makna itu tidak seharusnya berhenti pada urusan batin dan ritual semata.
Lebaran juga adalah panggilan untuk menata ulang kehidupan bersama: membersihkan cara pandang, memperbaiki arah kebijakan, serta memastikan pembangunan dijalankan dengan kejujuran, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dalam pengertian itu, Idul Fitri bukan hanya peristiwa keagamaan, melainkan juga cermin etik untuk menguji apakah jalan pembangunan yang kita tempuh sungguh menghadirkan kemaslahatan, atau justru meninggalkan luka yang dipaksa dianggap wajar.
Refleksi ini menjadi penting ketika dibawa ke dalam perdebatan energi di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Flores. Pertanyaan mendasarnya sederhana namun mendesak: apakah transisi energi sedang dijalankan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih adil, atau justru hadir sebagai bentuk baru penaklukan atas ruang hidup masyarakat?
Selama ini, perdebatan energi di NTT sering terjebak dalam dua kutub yang saling meniadakan. Di satu sisi, ada narasi besar tentang energi bersih, dekarbonisasi, dan kepentingan nasional.














