Puncaknya, para penonton diajak bersama-sama menyanyikan lagu “Kulihat Ibu Pertiwi.”
Suara penonton perlahan menyatu. Lagu tersebut tidak lagi sekadar menjadi bagian dari pertunjukan, tetapi berubah menjadi ungkapan bersama untuk saudara-saudari di Flores yang sedang menghadapi bencana.
Jika “Tanah Airku” mengiringi keheningan untuk mengenang para korban, maka “Kulihat Ibu Pertiwi” menjadi suara bersama untuk merasakan luka tanah air.
MDUMP VI akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk merayakan kemerdekaan. Di tangan Komunitas Lafaek Malaka dan para pegiat komunitas, perayaan itu juga menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa nasionalisme dapat hadir dalam bentuk sederhana: mendoakan, mengheningkan cipta, berbagi, berkarya dan berdiri bersama mereka yang sedang berduka.
Dari Malaka, daerah di ujung selatan Indonesia, pesan itu disampaikan melalui doa, keheningan, lagu, puisi, musik dan sebuah kotak donasi.
Sederhana, tetapi bermakna.
Ketika masyarakat Malaka bersama-sama menyanyikan “Kulihat Ibu Pertiwi”, malam itu seakan lahir sebuah pesan:














