Bila tidak ditangani secara cepat dan menyeluruh, luka psikologis yang ditimbulkan bisa menghancurkan masa depan korban, bahkan berpotensi melahirkan siklus kekerasan baru.
Sosialisasi pencegahan yang efektif sejauh ini nyaris tidak ada. Andreas mengakui DP2KBP3A hanya “nebeng” materi sosialisasi lewat Community Development Bethesda (CD BETEDDHA), sebuah lembaga non-pemerintah yang selama ini membantu program kesehatan dan pemberdayaan — karena keterbatasan anggaran dinas. Sementara upaya hukum dan penegakan oleh aparat kepolisian berjalan sporadis; Polres Malaka memang menangani dan menetapkan tersangka di beberapa kasus, namun tindakan preventif dan program pemulihan korban tetap minim.
Para aktivis, tokoh masyarakat, dan serikat media lokal terus menyerukan agar pemerintah daerah tidak lagi menutup mata. Mereka meminta ketersediaan anggaran khusus, program edukasi di sekolah dan desa, pelatihan bagi tenaga pendidikan dan aparat desa, serta layanan pemulihan psikologis yang mudah diakses bagi korban. Tanpa intervensi struktural seperti itu, upaya penanganan kasus hanya bersifat reaktif — menambal luka setelah tragedi terjadi, bukan mencegahnya sejak awal.














