Engelbertus yang akrab disapa Angel juga menambahkan, sebelum kejadian, Saul sempat mengantar penumpang ke Betun dan memilih melewati jalur Kaputu karena sudah mengetahui kondisi banjir di beberapa titik.
“Waktu itu dia antar penumpang ke Betun, dia lewat Kaputu karena tahu sudah banjir. Masa dia pulang justru lewat banjir?” ujar Angel dengan nada heran.
Ia menuturkan, biasanya Saul tidak pernah bepergian lama dan paling lama hanya sekitar dua jam. Karena itu, saat Minggu sore Saul tak kunjung pulang, keluarga mulai merasa khawatir.
“Biasa Saul jalan paling lama dua jam. Jadi mulai sore kami sudah khawatir, dan waktu coba hubungi nomor teleponnya, sudah tidak aktif,” jelas Angel.
Selain itu, Angel juga menyoroti kejanggalan lain terkait dugaan korban terseret banjir, yakni tidak ditemukannya sepeda motor milik Saul hingga saat ini.
“Kalau memang dia terseret banjir, masa motor tidak ada? Itu juga jadi tanda tanya bagi kami keluarga,” tambahnya.
Kekhawatiran keluarga semakin bertambah ketika keesokan harinya, Senin pagi sekitar pukul 07.00 WITA, Saul juga tidak merespons saat dihubungi melalui panggilan WhatsApp.
Di sisi lain, beredar sejumlah informasi di media sosial yang semakin menambah misteri terkait keberadaan Saul sebelum ditemukan meninggal dunia. Disebutkan bahwa Saul sempat berada di wilayah Wekfau, Desa Fatuaruin, Kecamatan Sasitamean.














