Perempuan berusia 39 tahun ini berharap status barunya sebagai PPPK memperkuat perannya sebagai pendidik. Ia ingin menciptakan ruang konseling yang lebih manusiawi, lebih dermawan, dan lebih dekat pada persoalan remaja.
Monika percaya bahwa pendidikan tidak berhenti pada pelajaran di kelas—ia ada dalam tutur kata, teladan, dan kesediaan guru untuk mendengar keluh-kesah siswanya.
Kini, setelah pengangkatannya, Monika membawa misi baru. Ia ingin menjadi bagian dari perubahan pendidikan di Malaka, terutama di wilayah yang masih jauh dari sentuhan fasilitas yang memadai.
Ia juga berharap ribuan guru honorer di NTT, yang masih berjuang di jalur terjal pengabdian, mendapat kesempatan seperti dirinya.
“Semoga teman-teman guru lainnya juga segera menyusul. Kami bekerja di sekolah karena cinta, sekaligus karena ingin masa depan anak-anak lebih baik,” katanya.
Dalam dirinya, tersimpan kisah panjang tentang perempuan desa yang dibesarkan oleh pohon lontar, ditempa oleh keterbatasan, tetapi tetap percaya bahwa pendidikan adalah tangga menuju masa depan.














