Setelah lulus kuliah, Monika memulai pengabdian sebagai guru honorer di SMA Negeri Halioan. Bukan hal yang mudah. Gaji yang diterima sering kali tidak cukup untuk biaya transportasi. Kadang ia harus meminjam uang untuk bertahan hidup hingga akhir bulan.
Namun ada sesuatu yang membuatnya tetap bertahan: anak-anak. Setiap pagi, ia berangkat dengan sepeda motor tua melewati jalan berlubang, berdebu, dan kadang becek ketika musim hujan tiba. Meski demikian, setiap kali bertemu siswa-siswinya, beban hidup seolah menjadi lebih ringan.
Ada siswa yang ia bantu keluar dari masalah perundungan. Ada yang ia damping saat keluarganya berantakan. Ada yang akhirnya melanjutkan kuliah karena dorongannya.
“Kalau saya berhenti, bagaimana dengan anak-anak ini? Mereka perlu guru BK yang benar-benar mau mendengar,” katanya.
Namun bertahun-tahun status honorer tanpa kepastian membuat hatinya lelah. Pernah suatu ketika, ia berpikir untuk berhenti.
“Saya ingin menyerah… tapi begitu lihat siswa-siswa saya, hati saya kembali kuat,” ujarnya lirih.














