Monika lahir dan besar di Dusun Man Mana, Desa Numponi, Kecamatan Malaka Timur, sebuah wilayah yang dipenuhi hamparan lontar dan ladang kering. Ayah dan ibunya adalah petani sederhana yang mengandalkan irisan lontar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap tetes dari pohon lontar bukan sekadar minuman atau gula lempeng—itu adalah biaya sekolah, ongkos hidup, dan modal masa depan.
Bagi Monika, pendidikan adalah kemewahan. Ia ingat bagaimana ibunya sering menyimpan senyum ketika uang registrasi kuliah terlambat dibayar. Kadang ia harus menahan lapar demi menghemat biaya transportasi. Kadang ia pulang menumpang truk pengangkut hasil kebun.
“Saya selalu bilang ke diri sendiri: kalau berhenti, siapa yang mau mengubah hidup saya?” kenangnya.
Saat teman-temannya memilih jurusan yang dianggap “lebih menjanjikan”, Monika justru memilih jalur pendidikan. Ia ingin menjadi guru—bukan karena gajinya, tetapi karena ia masih percaya ada nilai yang lebih besar dari materi: mengubah anak-anak menjadi manusia yang lebih baik.














