Sementara itu, masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada aktivitas harian juga membutuhkan perhatian apabila kabut asap menghambat pekerjaan dan kegiatan ekonomi mereka.
Bagi Wila, perlindungan terhadap masyarakat harus menjadi bagian utama dari kebijakan penanganan karhutla, bukan sekadar langkah tambahan setelah situasi memburuk.
“Ketika masyarakat harus mengkhawatirkan udara yang mereka hirup setiap hari, pemerintah wajib memastikan keselamatan warga menjadi prioritas. Hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat harus diwujudkan melalui tindakan nyata,” ujarnya.
Lebih jauh, Wila memandang persoalan karhutla sebagai masalah lingkungan sekaligus persoalan keadilan sosial.
Ia menilai, pemanfaatan sumber daya alam seharusnya memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, bukan justru menimbulkan risiko kerusakan lingkungan yang harus ditanggung bersama.
Ketika kebakaran terjadi dan kualitas udara memburuk, masyarakat luas dapat merasakan dampaknya, termasuk anak-anak yang membutuhkan lingkungan belajar yang sehat, pekerja yang bergantung pada aktivitas harian, serta keluarga yang harus menjaga kesehatan anggota rumah tangganya.














