Arnoldus menilai bahwa apabila berbagai rekomendasi tersebut dapat diwujudkan, maka sektor garam di Humusu Wini tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu sektor unggulan yang mendukung pertumbuhan ekonomi Kabupaten Timor Tengah Utara.
“Potensi ini harus menjadi perhatian bersama. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Humusu Wini dapat berkembang menjadi sentra produksi garam yang lebih maju dan berdaya saing, bahkan mampu menjadi kawasan ekonomi unggulan di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor-Leste,” tutupnya.
Program magang mahasiswa FEB Universitas Timor di UMKM tambak garam Humusu Wini diharapkan menjadi jembatan antara dunia akademik dan kebutuhan masyarakat, sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara dalam memperkuat pemberdayaan UMKM berbasis potensi lokal.














